Selasa, 09 Agustus 2016

MENGENAL SOSOK SYECH SAYID SALEH PEDALEMAN SANGAPATI


                    “Wali Penyebar Agama Islam Pertama di Gumi Paer Sesait”

Oleh : Eko Sekiadim

Berawal dari sebuah kampung kecil pada Pertengahan abad 14 M, terbentuklah tatanan kehidupan masyarakat yang memegang teguh adat istiadat dan budaya yang kental melegenda. Kearifan lokal yang terus dipertahankan tersebut, sebelum kedatangan para wali penyebar Islam ke gumi paer Sesait kala itu, masyarakat kampung tersebut sudah memiliki keyakinan mempercayai adanya Tuhan, yaitu menganut keyakinan yang disebut Islam Jelema Ireng (Wettu Telu), artinya ajaran Islam belum sepenuhnya diterima (dalam hal Syariat). Namun dalam hal Ketauhidan, masyarakat Sesait memiliki faham dan keyakinan yang sangat kuat. Setelah kedatangan para Wali Allah (para penyebar Islam) yang mengajarkan agama Islam kepada penduduk kampung tersebut, maka teranglah pelaksanaan agama Islam di tempat itu. 


Menurut Djekat, salah seorang tokoh adat Sesait mengatakan, pada sekitar abad 14 M, Sesait dijadikan sebagai Pusat Penyebaran Islam dan Pusat Pemerintahan Pertama diwilayah kekuasaan Sesait, karena berdasarkan atas keputusan para wali di Jawa, bahwa wali yang pertama menginjakkan kakinya di gumi paer Sasait adalah Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman, berasal dari Makkah Al-Mukarramah, dan Kanjeng Said Rahmad atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Bapuk Rahmad. 
 
Kedua wali tersebut secara bersamaan datang ke kampung tersebut. Mereka berdua secara bersama-sama menyebarkan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Namun kedua wali penyebar Islam ini setelah tugas mereka dianggap sudah berhasil, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke daerah lain yaitu ke tanah Jawa Dwipa. Tetapi kedua wali ini tidak begitu saja meninggalkan daerah ini. Maka mereka pun sepakat, siapa yang tetap tinggal dan siapa yang akan melanjutkan perjalanan. 
 
Sejarah mencatat, bahwa yang tetap tinggal di Pedaleman dan dikenal sebagai Mangku Gumi yang pertama di Kerajaan Sesait dengan gelar Diah Pangeran Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati atau lebih dikenal dengan nama Melsey Jaya. Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati setelah ditinggal rekannya Kanjeng Said Rahmad, tugas misi suci itu terus dilakukannya hingga akhir hayatnya. Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati inilah yang menurunkan Demung-Demung Sesait. Setelah mangkat beliau dimakamkan di hutan Pedewa Sesait sekitar 200 m kearah utara kampung Sesait sekarang dan makam beliau masih terpelihara hingga saat ini, yang oleh masyarakat Sesait di sebutnya “Makam Kubur Beleq”. 
 
Kanjeng Sayid Rahmad setelah mengajarkan Agama Islam di Gumi Sesait, lalu beliau berlayar menuju tanah Jawa Dwipa untuk melanjutkan syiar Islam. Konon katanya, berdasarkan bukti tertulis pada piagam Sesait (Kitab Muhtadi’) yang hingga saat ini tersimpan di Kampu Sesait menerangkan, sepeninggal Kanjeng Sayid Rahmad dari bumi Sesait, maka kampung tempat beliau pertama kali menyebarkan Islam di tanah Sesait tersebut, beliau namakan dengan sebutan kampung Si Sayid, (untuk mengenang jasanya) yang berabad-abad kemudian berdasarkan pergeseran waktu lambat laun nama kampung itu berubah dari Si Sayid menjadi Sesait. 
 
Disebutkan, adapun peninggalan – peninggalan serta ajaran –ajaran Sayid Rahmat yang hingga kini tersimpan di Kampu Sesait (Singgasana Datu Sesait) diantaranya, Kitab Suci Al Qur’an Cetakan Turki Pertama tahun 1433 M, Kitab Sholawatan yang di tulis tangan oleh beliau sendiri, yang umurnya sudah mencapai kurang lebih 580 tahun, serta Tongkat Khotbah yang terbuat dari Hati pohon Pisang. Selain peninggalan Sayid Rahmat yang berbentuk benda tersebut, Sayid Rahmat juga meninggalkan ajaran yang terkenal yaitu Fiqh Ushul dan Tasawuf, dimana metode yang di gunakan dalam menyampaikan ajarannya, tidak pernah bertentangan dengan adat - istiadat atau budaya lokal yang berlaku di kampung tempatnya berdakwah kala itu yang sekarang bernama Sesait. Itulah sebabnya di kalangan para sesepuh adat dan para santri yang hidup kala itu hingga menurunkan generasi berikutnya masih kuat memegang teguh adat dan pemahaman tasawufnya di kalangan penduduk Sesait. “Hingga sekarang pemahaman jalan tasawuf ini dikalangan sesepuh atau para pelingsir tokoh adat maupun tokoh agama di bumi Sesait masih kita jumpai,”tandas Djekat.( eko)

                                                                    (Pernah terbit di Seputar NTB, Minggu Ke-3 Juli 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar