“Wali Penyebar Agama Islam Pertama di Gumi Paer Sesait”
Oleh : Eko Sekiadim
Berawal
dari sebuah kampung kecil pada Pertengahan abad 14
M,
terbentuklah tatanan kehidupan masyarakat yang memegang teguh adat
istiadat dan budaya yang kental melegenda. Kearifan lokal yang terus
dipertahankan tersebut, sebelum kedatangan para wali penyebar Islam
ke gumi paer Sesait kala itu, masyarakat kampung tersebut sudah
memiliki keyakinan mempercayai adanya Tuhan, yaitu menganut keyakinan
yang disebut Islam Jelema Ireng (Wettu Telu), artinya ajaran Islam
belum sepenuhnya diterima (dalam hal Syariat). Namun dalam hal
Ketauhidan, masyarakat Sesait memiliki faham dan keyakinan yang
sangat kuat. Setelah kedatangan para Wali Allah (para penyebar
Islam) yang mengajarkan agama Islam kepada penduduk kampung tersebut,
maka teranglah pelaksanaan agama Islam di tempat itu.
Menurut
Djekat, salah seorang tokoh adat Sesait mengatakan, pada sekitar
abad 14 M, Sesait dijadikan sebagai Pusat Penyebaran Islam dan
Pusat Pemerintahan Pertama diwilayah kekuasaan Sesait, karena
berdasarkan atas keputusan para wali
di Jawa,
bahwa wali yang pertama menginjakkan kakinya di gumi paer Sasait
adalah Kanjeng
Syech Said Saleh Pedaleman,
berasal dari Makkah
Al-Mukarramah,
dan Kanjeng
Said
Rahmad
atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Bapuk
Rahmad.
Kedua
wali tersebut secara bersamaan datang ke kampung tersebut. Mereka
berdua secara bersama-sama menyebarkan ajaran Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad Saw. Namun kedua wali penyebar Islam ini setelah tugas
mereka dianggap sudah berhasil, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke
daerah lain yaitu ke tanah Jawa Dwipa. Tetapi kedua wali ini tidak
begitu saja meninggalkan daerah ini. Maka mereka pun sepakat, siapa
yang tetap tinggal dan siapa yang akan melanjutkan perjalanan.
Sejarah
mencatat, bahwa yang tetap tinggal di Pedaleman
dan dikenal sebagai Mangku
Gumi yang pertama di
Kerajaan Sesait dengan gelar Diah
Pangeran
Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati
atau lebih dikenal dengan nama Melsey
Jaya.
Kanjeng
Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati
setelah ditinggal rekannya Kanjeng
Said
Rahmad,
tugas misi suci itu terus dilakukannya hingga akhir hayatnya.
Kanjeng Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati
inilah yang menurunkan Demung-Demung
Sesait. Setelah
mangkat beliau dimakamkan di hutan Pedewa Sesait sekitar 200 m kearah
utara kampung Sesait sekarang dan makam beliau masih terpelihara
hingga saat ini, yang oleh masyarakat Sesait di sebutnya “Makam
Kubur Beleq”.
Kanjeng
Sayid
Rahmad
setelah mengajarkan Agama Islam di Gumi Sesait, lalu beliau berlayar
menuju tanah Jawa Dwipa untuk melanjutkan syiar Islam. Konon katanya,
berdasarkan bukti tertulis pada piagam Sesait (Kitab Muhtadi’) yang
hingga saat ini tersimpan di Kampu Sesait menerangkan, sepeninggal
Kanjeng
Sayid Rahmad dari bumi Sesait, maka kampung
tempat beliau pertama kali menyebarkan Islam di tanah Sesait
tersebut, beliau namakan dengan sebutan kampung Si Sayid,
(untuk
mengenang jasanya) yang
berabad-abad
kemudian
berdasarkan pergeseran waktu lambat laun nama kampung itu berubah
dari Si Sayid menjadi Sesait.
Disebutkan,
adapun peninggalan – peninggalan serta ajaran –ajaran Sayid
Rahmat yang hingga kini tersimpan di Kampu Sesait (Singgasana Datu
Sesait) diantaranya, Kitab Suci Al Qur’an Cetakan Turki Pertama
tahun 1433 M, Kitab Sholawatan yang di tulis tangan oleh beliau
sendiri, yang umurnya sudah mencapai kurang lebih 580 tahun, serta
Tongkat Khotbah yang terbuat dari Hati pohon Pisang. Selain
peninggalan Sayid Rahmat yang berbentuk benda tersebut, Sayid Rahmat
juga meninggalkan ajaran yang terkenal yaitu Fiqh Ushul dan Tasawuf,
dimana metode yang di gunakan dalam menyampaikan ajarannya, tidak
pernah bertentangan dengan adat - istiadat atau budaya lokal yang
berlaku di kampung tempatnya berdakwah kala itu yang sekarang bernama
Sesait. Itulah sebabnya di kalangan para sesepuh adat dan para santri
yang hidup kala itu hingga menurunkan generasi berikutnya masih kuat
memegang teguh adat dan pemahaman tasawufnya di kalangan penduduk
Sesait. “Hingga sekarang pemahaman jalan tasawuf ini dikalangan
sesepuh atau para pelingsir tokoh adat maupun tokoh agama di bumi
Sesait masih kita jumpai,”tandas Djekat.(
eko)
(Pernah
terbit di Seputar NTB, Minggu Ke-3 Juli 2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar