Ketika
menyebut makam Kubur Beleq, sudah tidak asing lagi bagi sebagian
besar masyarakat
Sesait -Kayangan.
Mengingat perjalanan panjang sejarah penyebaran Islam di Sesait,
sangat erat kaitannya dengan keberadaan makam ini. Tidak sedikit
mitos yang melingkari keberadaan makam Kubur Beleq, sosok ulama yang
dikabarkan sebagai mubaligh berasal dari Bagdad ini, menyebarkan
Islam sampai ke tanah Sesait, sekitar awal abad ke 14 M. Oleh
masyarakat komunitas Sesait – Kayangan dikenal dengan sebutan Kubur
Beleq. Pada momen hari-hari raya/hari lebaran hingga lebaran topat
setiap tahun, makamnya banyak dikunjungi warga dari berbagai wilayah
di Lombok untuk berziarah.
Salah
seorang tokoh Sesait Djekat menyebutkan, ulama yang berjasa dalam
menyebarkan Islam di tanah Sesait adalah Kanjeng
Pangeran Syech Said Saleh Pedaleman Sangapati
dari Bagdadh. Peranannya dalam penyebaran Islam amat
besar
di masyarakat Sesait zaman dulu, sehingga makamnya memiliki makna
spiritual yang luar biasa.
Makam
Kubur Beleq dikalangan masyarakat Sesait-Kayangan dikenal juga dengan
sebutan makam Titik
Pati.
Makam ini terletak sekitar 300 meter ke arah utara Dusun Sesait Desa
Sesait Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Untuk sampai ke tempat makam
ini, tidak harus menguras tenaga dalam jumlah yang besar. Cukup jalan
kaki beberapa menit, sudah sampai di lokasi. Begitu tiba di lokasi,
kita akan singgah dulu di makam Titik Pati yang lokasinya persis di
dekat pintu masuk.
Para
peziarah yang akan melakukan ziarah ke makam Kubur Beleq, terlebih
dahulu harus melakukan zikir di makam Titik Pati ini. Pasalnya
diyakini makam ini merupakan makam ayahanda dari Kanjeng Pangeran
Syech
Said Saleh Pedaleman
Sangapati.
Jadi, sebelum ziarah ke makam Kanjeng, harus ke makam ayahandanya
terlebih dahulu untuk meminta ijin berziarah ke makam tersebut.
”Makam Titik Pati ini diyakini oleh masyarakat adat Sesait sebagai
makam para penyebar Islam di tanah Sesait yang pertama kali menganut
Islam, tetapi belum bersunnat,”jelas pembekel adat Sesait Masidep.
Dijelaskannya,
setelah selesai zikir/minta ijin di makam Titik Pati, lalu
dilanjutkan ke makam Kanjeng Pangeran Syech
Said Saleh Pedaleman
Sangapati,
yang lokasinya hanya beberapa meter saja.
Di
sekeliling makam Kubur
Beleq tersebut
terdapat
empat makam kecil-kecil, yang oleh warga setempat diyakini sebagai
makam para pendampingnya. Keempat makam tersebut tiada lain adalah
makam Mahapatih/panglima perang yang selalu mendampingi dan
membantunya dalam penyebaran Islam di seantero gumi Sesait. Keempat
patih itu antara lain, Daman, Jumanah, Rafikah dan Rafi’ah.
Selama
masa hayatnya, sang
Syech
mendedikasikan
dirinya untuk menyeru masyarakat Sesait agar menganut Islam, sehingga
peran para patih ini vital dalam membantu penyebaran syiar ajaran
Islam kala itu.
Namun
demikian, karena situasi dan kondisi saat itu yang tidak begitu
memungkinkan sehingga para ulama ini dalam menyebarkan ajaran Islam
di wilayah setempat tidak maksimal. Terbukti, mereka tidak optimal
memberikan pencerahan kepada warga setempat. Selain itu, faktor lain
yang menyebabkan tak optimalnya penyebaran syiar Islam kala itu
karena sang ulama telah terlebih dahulu mangkat. Dampaknya,
sinkretisme (paham agama yang melibatkan unsur tahayul) dan animisme,
bercampur aduk dengan ajaran yang diajarkan.
(eko).
(Pernah
terbit di Radar Lombok, Rabu, 01/07/2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar